Gerakan “Ayo Minum Air” Edukasi Anak-Anak SD

217
Minum Air Putih (google images)

Gerakan “Ayo Minum Air” (Amir) mengedukasi masyarakat untuk menyadari pentingnya kebutuhan air putih bagi tubuh dengan memulainya dari anak-anak SD dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Sebagai tahap awai pelaksanaan edukasi masyarakat melalui gerakan AMIR, IHWG dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia telah meluncurkan Komik Hidrasi dan modul pelatihan bagi para guru PAUD serta pelaku rawat sebagai media untuk menyebarkan pengetahuan akan pentingnya air putih bagi tubuh,” kata Ketua IHWG Budi Wiweko di Jakarta, Kamis.

Edukasi tentang pentingnya minum air putih diberikan kepada anak-anak sejak dini agar tertanam perilaku hidup sehat yang akan berubah menjadi kebiasaan. Selain itu juga membiasakan anak mengurangi minum minuman manis sejak dini.

IHWG memberikan pelatihan kepada 61 orang guru PAUD dan implementasi materi komik untuk 495 orang murid di 22 Iembaga PAUD.

Mengacu kepada data Kementerian Kesehatan RI mengenai penyakit katastropik, jumlah penderita penyakit ginjal di Indonesia menempati urutan kedua setelah penyakit jantung daiam jumiah penderita.

Pertumbuhan jumlah penderita penyakit ginjal hampir 100 persen dari tahun 2014 hingga 2015.

Salah satu kondisi yang berperan besar terhadap peningkatan penyakit katastropik, termasuk penyakit ginjai kronik, adalah obesitas atau kegemukan.

Semakin gemuk seseorang, semakin besar risiko mengalami hipertensi maka semakin keras kerja ginjal yang berpotensi mengalami gangguan fungsi ginjal.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi penduduk dewasa (di atas 18 tahun) dengan kelebihan berat badan mencapai 28,9 persen, yaitu berat badan Iebih sebesar 13,5 persen dan obesitas sebesar 15,4 persen.

Angka tersebut terus meningkat di tahun 2016 menjadi 33,5 persen, masing-masing berat badan Iebih sebesar 12,8 persen dan obesitas sebesar 20,7 persen.

Salah satu faktor pemicu obesitas yang paling banyak ditemui ialah mengonsumsi makanan dan minuman manis berlebih.

“Konsumsi minuman manis menjadi sebuah realita yang sulit dielakkan karena relatif mudahnya ketersediaan dan akses mendapatkan produk-produk tersebut di sekitar rumah maupun sekolah. Pola hidrasi ini yang tidak baik terkait dengan konsumsi gula dalam minuman,” kata Budi. (Antara)

LEAVE A REPLY