Ojk : Ancaman Serangan Siber Semakin Meningkat

110
Sumber Gambar : inspirasi.co

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh
Santoso mengingatkan ancaman serangan siber terhadap sistem keuangan
semakin meningkat menyusul pesatnya pemanfaatan teknologi komunikasi dan
informatika di industri jasa keuangan.

“Upaya pencegahan serangan siber tidak dapat dilakukan hanya oleh satu
negara saja tetapi harus merupakan inisiatif global karena para peretas
beroperasi tanpa mengenal batas negara,” kata Wimboh dalam seminar
International Good Practices on Cybersecurity Preparednesss dalam
rangkaian pertemuan tahunan Bank Dunia – IMF di Washington, D.C.

Melalui keterangan tertulis diterima di Jakarta, Rabu, Wimboh mengatakan
penggunaan internet oleh pemerintah untuk pelayanan publik dan juga
penggunaan oleh swasta termasuk di industri jasa keuangan berisiko
terhadap serangan siber jika tidak diperkuat dengan manajemen mitigasi.

“Di Indonesia, industri jasa keuangan dikategorikan sebagai salah satu
infrastruktur penting yang perlu dijaga dari ancaman keamanan dunia maya,”
kata Wimboh.

Terkait hal itu, OJK, lanjut Wimboh, akan membuat layanan informasi
keuangan yang bertugas mempercepat pemulihan saat terjadi serangan siber.
Regulator industri keuangan itu juga akan membentuk lembaga pelatihan
penanganan serangan siber.

“Selain itu, untuk mengantisipasi peningkatan ancaman keamanan siber, OJK
telah bergabung dalam inisiatif bersama untuk membentuk Badan Siber
Nasional bersama sejumlah kementerian dan lembaga negara seperti
Kemenkominfo, Kementerian Pertahanan, Kemenko Polhukam, Kepolisian, dan
lain-lain,” ujar dia.

Dalam lawatannya memenuhi undangan Bank Dunia ini, OJK juga mengikuti
pertemuan tingkat tinggi bersama beberapa perwakilan bank sentral maupun
otoritas pengawas keuangan negara lain untuk membahas dua ikhwal
strategis, yaitu “Annual Meeting of the IFC-led Sustainable Banking
Network (SBN)” dan “Regulatory Approaches for Non-Systemic Banks”.

Perubahan Iklim

Dalam lawatannya di Amerika, Wimboh juga menekankan implikasi perubahan
iklim yang dapat mengakibatkan gangguan pada sektor jasa keuangan dan
berpotensi memicu krisis ekonomi.

“Perlu adanya peta jalan global sektor keuangan berkelanjutan yang
diharapkan dapat mempercepat pemenuhan pendanaan untuk tujuan pembangunan
berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dengan meningkatkan
peran sektor swasta secara global,” ujarnya dalam “Annual Meeting of the
IFC-led Sustainable Banking Network (SBN)”.

Menurut Mantan Komisaris Utama Bank Mandiri ini, agar lebih efektif,
masing-masing negara harus memiliki strategi nasional pengembangan
keuangan berkelanjutan yang membangun komitmen bersama dan
mengkolaborasikan berbagai instansi, akademisi, industri jasa keuangan dan
sektor bisnis.

OJK sudah mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa
Keuangan, Emiten, Dan Perusahaan Publik.

Sebelumnya pada Desember 2014, OJK juga sudah mengeluarkan peta jalan
Keuangan Berkelanjutan di Indonesia yang bertujuan menjabarkan kondisi
yang ingin dicapai terkait keuangan yang berkelanjutan dalam jangka
menengah (2015-2019) dan panjang (2015-2024) bagi industri jasa keuangan
yang berada di bawah pengawasan OJK serta untuk menentukan dan menyusun
tonggak perbaikan program keuangan berkelanjutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here