Suriah Bantah Militernya Miliki Senjata Kimia

344
Salah Satu Senjata Kimia yang Berbahaya (google images)

Kementerian Luar Negeri Suriah pada Selasa (4/4) menyatakan militer Suriah tak memiliki senjata kimia jenis apapun.

Kementerian tersebut di dalam satu pernyataan mengecam sebagai sama sekali tak berdasar laporan yang menuduh Angkatan Udara Suriah melancarkan serangan gas beracun terhadap Kota Kecil Khan Sheikhoun, yang dikuasai gerilyawan, di Provinsi Idlib di bagian barat-laut negeri tersebut, pada Selasa pagi.

Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia menyatakan 58 orang tewas dan puluhan orang lagi cedera akibat serangan itu.

Kementerian tersebut menegaskan, “Militer Suriah tak memiliki senjata kimia dan tidak menggunakannya sebelum ini di kota mana pun di Suriah.”

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad mengatakan kepada stasiun TV pan-Arab Al-Mayadeen bahwa gerilyawan yang didukung oleh Prancis, Inggris, Turki dan Arab Saudi lah yang melancarkan serangan kimia di Khan Sheikhoun.

Ia juga mengatakan negaranya telah memenuhi semua komitmennya sebagai diatur oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).

Pejabat Suriah tersebut, sebagaimana diberitakan Xinhua yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi, juga mendesak masyarakat internasional agar menyeret ke pengadilan semua pihak yang berada di belakang serangan itu.

Mekdad menyatakan Pemerintah Suriah telah memberikan keterangan kepada OPCW beberapa pekan lalu mengenai penyelundupan bahan kimia oleh Front An-Nusra yang memiliki hubungan dengan Al-Qaida ke dalam wilayah Suriah Utara.

Serangan pada Selasa bukan yang pertama dilaporkan di Suriah, sebab serangan senjata kimia dikatakan telah terjadi di beberapa daerah di Suriah dalam beberapa tahun belakangan, sementara Pemerintah Damaskus dan gerilyawan saling melempar tuduhan.

Sebanyak 1.400 orang tewas ketika beberapa daerah yang dikuasai gerilyawan di pinggir Ibu Kota Suriah, Damaskus, diserang oleh roket yang berisi bahan kimia sarin pada 21 Agustus 2013. Oposisi dan pemerintah juga saling melempar tuduhan.

Pada tahun yang sama, serangan bahan kimi terjadi di Kota Kecil Khan Al-Asal, yang dikuasai pemerintah, di pinggir Aleppo. Dalam serangan tersebut, beberapa prajurit Suriah dan warga sipil tewas atau menderita sesak nafas. Pemerintah menuduh gerilyawan, yang, pada gilirannya, membantah tuduhan itu.

Pada Oktober 2013, beberapa pejabat OPCW tiba di Suriah untuk memantau perlucutan simpanan senjata kimia Suriah, setelah Damaskus secara resmi bergabung dalam Konvensi Pelarangan Senjata Kimia.

OPCW belakangan menyatakan Pemerintah Damaskus telah membuat instalasi produksi senjata kimianya tak beroperasi.

Perlucutan senjata kimia Suriah dilakukan secara dicapainya kesepakatan AS-Rusia, tanda pertama mengenai konsensus antara kedua negara adi-daya mengenai konflik Suriah.

Sejak itu, laporan mengenai serangan gas beracun beberapa kali muncul. (Antara/Xinhua-OANA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here