WHO: Warga Yaman Terancam Terserang Penyakit Akibat Kegagalan Pranata Kesehatan

349

Kegagalan pranata kesehatan di Yaman mengancam jutaan warga terserang penyakit dan kekurangan gizi, kata Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kamis.

Keadaan buruk itu ditunjukkan dengan anggaran tidak memadai, kurang ketersediaan obat serta tenaga kesehatan, tambah WHO.

Keburukan unsur kesehatan di Yaman terjadi akibat perang, yang telah berkecamuk dua tahun.

Perang melibatkan pemerintah Yaman, yang didukung persekutuan militer Arab Saudi, melawan pemberontak Houthi, sekutu Iran.

Setidak-tidaknya, setengah dari 28 juta penduduk Yaman mengalami kelaparan, dampak keterpurukan perekonomian, bahkan ketersediaan pangan semakin menipis.

Program Pangan Dunia (WFP), salah satu lembaga bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa awal bulan ini mengingatkan, lebih dari 20 juga warga di Yaman, Nigeria, Sudan Selatan, dan Somalia akan mengalami bencana kelaparan dalam enam bulan mendatang.

Misalnya, 7,3 juta warga di Yaman saat ini sangat membutuhkan bantuan pangan, kata WFP.

Sebelumnya, pemerintah Yaman menggelar vaksinasi massal ke warganya demi mencegah penyakit Polio yang dikhawatirkan akan kembali menyerang.

“Sekitar 14,8 juta warga kesulitan mengakses layanan kesehatan, kurangnya anggaran di sektor itu membuat kondisi ke depan akan semakin buruk,” kata Nevio Zagaria, perwakilan WHO di Yaman.

Sejumlah badan PBB, termasuk WHO tahun lalu telah menerima 60 persen dari 2,4 trilyun rupiah untuk membantu sektor kesehatan di Yaman.

Sejauh ini, dana yang dibutuhkan untuk bidang kesehatan mencapai 4,2 trilyun rupiah. Namun pemerintah hanya mampu mendanai kurang dari satu persennya, kata Lembaga Pelacak Keuangan PBB.

WHO mengatakan, fasilitas kesehatan di Yaman yang dapat diakses dan berfungsi hanya mencapai 45 persen.

Tenaga medis spesialis seperti dokter gawat darurat, psikiater, dan perawat asing telah meninggalkan Yaman.

Pekerja kesehatan yang bertahan tidak dibayar sejak September lalu, tambah WHO.

Rumah Sakit Al-Tharwa di Kota Hodeidah, dekat pelabuhan pesisir Laut Merah juga berhenti menyediakan makanan untuk pasien karena tak mampu membiayainya.

Rumah sakit adalah sarana utama kesehatan di Hodeidah. “Persediaan beberapa obat kian menipis dan rumah sakit ini butuh lebih banyak pasokan bahan bakar agar listrik tetap menyala,” kata direktur rumah sakit, Khaled Suhail.

Suhail menambahkan, hal itu sulit terwujud karena rumah sakit tidak memiliki uang untuk membiayai biaya operasional. Ia bahkan tidak dapat memastikan, rumah sakit akan terus beroperasi beberapa bulan mendatang.

WHO mengatakan, sekitar 4,5 jta warga Yaman, diantaranya termasuk dua juta anak membutuhkan perawatan dan langkah pencegahan malnutrisi.

Jumlah warga itu meningkat sebanyak 150 persen dibanding akhir 2014 lalu.

“Lembaga donor diharapkan meningkatkan bantuan, khususnya dalam penyediaan sumber daya untuk mendukung pranata kesehatan secara keseluruhan sebelum banyak warga tak bersalah tewas sia-sia,” kata Zagaria. (Antara/Thomson Reuters Foundation)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here