Ahmad Bambang Tokoh di Balik Kesuksesan Pertalite

347
Pertalite (google images)

Chief Operating Officer Downstream & NRE PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang menjadi tokoh yang berada di balik kesuksesan pertalite sebagai solusi masalah kuota bahan bakar minyak bersubsidi di Indonesia.

Ahmad Bambang di Jakarta, Kamis, mengatakan bisa jadi tidak banyak orang di luar yang menyadari bahwa dalam internal Pertamina, bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi cukup merepotkan BUMN itu dan pemerintah.

“BBM bersubsidi ini volumenya terus bertambah dari tahun ke tahun membuat pemerintah merogoh kocek anggaran lebih dalam. Sekitar satu dekade belakangan ini realisasi penjualan BBM bersubsidi senantiasa melampaui kuota yang ditetapkan DPR dan pemerintah,” katanya.

Hal itulah yang membuat Ahmad Bambang dan jajarannya mencari jalan keluar atas persoalan itu.

“Pertamina berpikir tentang kuota. Kami takut ketika masyarakat membeli melebihi kuota. Padahal premium tidak mungkin dihapus. Akhirnya kami membuat produk yang bisa mengurangi konsumsi premium. Hasilnya customer pindah ke produk baru,” ujar Ahmad Bambang.

Pertalite yang diluncurkan pada 2015 pada akhirnya mampu mengisi ruang antara premium dan pertamax.

“Pertalite memiliki RON 90. Sedang RON untuk premium 88 dan pertamax 92. Jika premium masih bertimbal, pertalite tidak bertimbal seperti pertamax. Artinya pertalite dan pertamax adalah produk yang sudah mempertimbangkan tuntutan lingkungan hidup,” katanya.

Untuk soal harga, pertalite lebih dekat ke pertamax ketimbang ke premium.

Strategi tersebut terbukti cukup baik sehingga banyak konsumen kemudian beralih dari premium ke pertalite.

Didukung dengan strategi pelayanan dan pemasaran yang tepat, Ahmad Bambang dan jajarannya terbukti berhasil menaikkan pangsa pasar pertalite dalam waktu relatif singkat seiring semakin menurunnya secara signifikan pangsa pasar premium.

“Premium sudah turun jauh. Per September 2016, market share premium sekitar 54 persen. Tapi per Oktober (2016), market share premium hanya 49 persen. Sedangkan market share pertalite naik menjadi 30 persen dan pertamax naik menjadi 17 persen. Target awal, market share premium secara nasional di bawah 50 persen pada akhir 2016. Namun, saat ini sudah
tercapai,” ujar peraih Marketeer of the Year 2016 itu.

Hal itu pun mendorong anggaran subsidi premium turun tajam yakni jika pada 2014 masih sebesar Rp92 triliun, pada 2015 turun menjadi Rp12 triliun, bahkan menjadi Rp8 triliun pada 2016. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here