BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim Tahap II

326
Para Peserta Sekolah Lapang Iklim (google images)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim tahap II tingkat Provinsi Jawa Baat dengan sasaran  penyuluh pertanian dari enam kabupaten.

“Sekolah Lapang Iklim tahap II ini diikuti oleh 25 penyuluh pertanian dari enam kabupaten di wilayah Jawa Barat yakni dari Kuningan, Cirebon, Majalengka, Indramayu, Sumedang dan Subang,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Dramaga, Bogor, Hadi Saputra, disela-sela pembukaan SLI Tahap II di Kota Bogor, Kamis.

Ia mengatakan, seluruh peserta SLI akan mengikuti pendidikan informasi iklim yang disampaikan oleh tenaga pengajar BMKG selama empat hari. Setelah mendapatkan pendidikan secara teori, akan dilanjutkan di lapangan, dalam rangka implementasi ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan.

Menurut, ada tiga tahapan dalam pelaksanaan SLI, tahap pertama dengan sasaran pemangku kepentingan yakni dinas terkait seperti dinas pertanian, dan pemerintah daerah.

“Selanjutnya SLI tahap dua dengan sasaran yakni penyuluh pertanian, ada tahap tiga sasarannya adalah kelompok tani, yang dilatih tentang informasi iklim,” katanya.

Ia menyebutkan SLI tahap III untuk wilayah Jawa Barat telah dilakukan pada tahun 2016 di wilayah Leuwiliang. Untuk tahun ini, lokasi SLI tahap III dengan sasaran petani akan dilaksanakan di Majalengka.

“Untuk tahun ini, SLI tahap III akan dilaksanakan bulan Juni dan Juli di Majalengka, ada 30 petani yang akan dilatih dengan menggunakan lahan pertanian seluas satu hektare,” katanya.

Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Pusat, Marjuki menjelaskan, SLI telah dimulai sejak tahun 2007 tetapi tidak berkelanjutan, hanya secara simultan. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman petani membaca informasi iklim sehingga dapat mendorong sektor pertanian.

Menurutnya, ketidakmampuan petani membaca anomali iklim berdampak pada sektor pertanian, mengakibatkan gagal panen, sehingga petani merugi dan ketahanan pangan dapat terancam.

“Tidak memahami informasi iklim dapat berakibat gagal mengantisipasi kekeringan dan banjir. Karena tidak tau kapan mulai menanam, apakah daerah termasuk rawan banjir dan kekeringan,” katanya.

Ia menyebutkan, implikasi dari kegagalan membaca informasi iklim, akan terjadi gagal panen, kerugian petani meningkat dan ketahanan pangan terancam.

“Ada dampak sosial yang ditimbulkan akibat tidak mengetahui anomali iklim,” katanya.

Sejak 2007 lanjut Marjuki, BMKG telah menyelenggarakan SLI di seluruh Indonesia. Tercatat sekitar 7.000 alumni telah diluluskan. Setiap lima tahun dilakukan evaluasi penyelenggara SLI untuk mengetahui dampak positif dan negatifnya.

“Hasil evaluasi kami inginkan SLI cakupannya lebih luas lagi dapat menjangkau lebih banyak petani dan penyuluh yang memiliki kemampuan dalam membaca informasi iklim yang dapat meningkatkan sektor pertanian,” katanya.

Marjuki menambahkan, rata-rata pelaksanaan SLI berdampak positif di kalangan petani dilihat dari produksi petani meningkat sebesar 20 sampai 30 persen per satu hektarnye.

“Untuk bisa meningkatkan produksi dengan cakupan lahan yang lebih luas, kemampuan membaca iklim juga didukung oleh penerapan teknologi pertanian, misalnya irigasi, dan pemilihan bibit yang berkualitas juga,” kata Marjuki. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here