BPOM: Intervensi Tekan Faktor Jajanan Sekolah Berbahaya

400
Salah satu jajanan Sekolah Dasar (Google Images)

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus melakukan intervensi guna menekan faktor pemicu tidak sehatnya pangan jajanan anak sekolah (PJAS). “Intervensi dilakukan untuk menekan empat masalah keamanan pangan terkait pangan jajanan anak sekolah,” kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Suratmono saat dihubungi Antara dari Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan empat masalah kemananan PJAS nisbi sama dengan persoalan pangan pada umumnya. Di antaranya yaitu pertama adanya cemaran mikroba dan masalah kehigienisan pangan yang dikonsumsi anak sekolah.

Kedua, kata dia, penggunaan bahan makanan yang diijinkan tapi pemakaiannya di luar takaran yang diijinkan. Hal seperti ini sering dilakukan produsen yang belum terdidik dengan baik, terutama produksi dari industri rumah tangga. Selanjutnya, adanya ancaman pembuatan pangan dicampur dengan bahan berbahaya seperti Formalin dan Boraks.

Terakhir, lanjut dia, pangan menjadi berbahaya saat dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar seperti karena cemaran industri, pertambangan dan sejenisnya. Atas empat hal persoalan yang mengancam PJAS itu, Suratmono mengatakan BPOM berupaya untuk terus melakukan intervensi seperti melakukan pengujian sampel pangan yang dijual di pasaran. BPOM juga melakukan pengawasan praproduksi pangan serta upaya hukum jika ditemukan pelanggaran terkait pangan.

Proses tersebut, kata dia, tidak cukup dilakukan jika tidak diimbangi dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Maka dari itu, BPOM melakukan intervensi dengan melibatkan sejumlah sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia untuk mengurangi peredaran jajanan tidak sehat bagi anak sekolah.Anak sekolah harus dilindungi sejak dini karena mereka adalah penerus generasi bangsa di masa mendatang.

Dia mengatakan pemerintah telah menginisiasi Aksi Nasional PJAS yang diluncurkan pada 2011 oleh Wakil Presiden Boediono. Pada awal peluncuran, angka PJAS di 23 ribu SD/MI di seluruh Indonesia (13 persen total SD/MI nasional) memiliki tingkat keamanan pangan yang terbilang tercemar banyak materi pangan tidak sehat.

Statistik menunjukkan 44,48 persen sekolah tidak menyediakan jajan anak
sekolah yang sehat.

Dalam kurun hingga 2015, kata dia, Aksi Nasional PJAS mampu menekan
peredaran pangan jajanan tidak sehat itu dengan kisaran laju prosentase
3-10 persen per tahunnya. Artinya, intervensi BPOM menunjukkan hasil yaitu
menghindarkan generasi penerus bangsa dari jajanan tidak sehat yang
membahayakan kesehatan.

Dia mengatakan sejumlah intervensi selain melakukan uji laboratorium
terhadap PJAS juga dilakukan penguatan pengawasan dan edukasi berbasis
komunitas sekolah, edukasi pedagang serta produsen, sosialisasi pangan
sehat kepada murid dan langkah strategis lainnya.  (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here