BPS: Pertanian Serap Tenaga Kerja Paling Banyak

476
Pertanian Indonesia (google images)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk Indonesia masih dominan bekerja di sektor pertanian pada Februari 2017 yaitu sebanyak 39,68 juta orang atau 31,86 persen dari jumlah penduduk bekerja sebesar 124,54 juta orang.

“Berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Februari 2017, penduduk Indonesia paling banyak bekerja pada sektor pertanian yaitu 39,68 juta orang atau 31,86 persen,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Suhariyanto menambahkan sektor lapangan pekerjaan lain yang ikut menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sebanyak 29,11 juta orang atau 23,37 persen dan jasa kemasyarakatan sebanyak 20,95 juta orang atau 16,82 persen.

Menurut dia, berdasarkan tren sektoral, hampir tidak ada lapangan pekerjaan yang konsisten naik maupun turun kontribusinya dalam pasar penyerapan tenaga kerja, meski kontribusi tenaga kerja bergerak fluktuatif pada tiap semester.

Hal tersebut terlihat dari kontribusi sektor pertanian yang masih dominan di struktur lapangan pekerjaan, diikuti sektor perdagangan, sektor jasa kemasyarakatan, sektor industri, sektor konstruksi, sektor transportasi, sektor keuangan, sektor pertambangan serta sektor listrik, gas dan air.

Walau demikian, selama periode Februari 2016-Februari 2017, sektor yang mengalami peningkatan tenaga kerja adalah sektor jasa kemasyarakatan sebesar 0,42 persen, sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi 0,27 persen, sektor pertanian 0,12 persen dan sektor industri 0,07 persen.

Sedangkan, kata Suhariyanto, sektor yang mengalami penurunan tenaga kerja dalam periode yang sama adalah sektor konstruksi sebesar 0,64 persen dan sektor perdagangan sebesar 0,25 persen.

“Tiga sektor yang persentasenya cenderung stagnan atau tidak berubah dalam setahun terakhir yaitu sektor keuangan, sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas dan air,” ungkapnya.

Dari seluruh penduduk bekerja, status pekerjaan utama terbanyak adalah buruh, karyawan atau pegawai 38,08 persen, berusaha sendiri 17,55 persen, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau buruh tidak dibayar 17,09 persen dan pekerja keluarga 14,58 persen.

“Sementara, penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap memiliki persentase paling kecil yaitu 3,57 persen,” tambah Suhariyanto.

Sementara itu, dari jumlah tenaga kerja tercatat 124,54 juta orang pada Februari 2017, sebanyak 72,67 juta orang atau 58,35 persen bekerja di sektor formal, sedangkan 51,87 juta orang atau 41,65 persen bekerja di sektor non formal.

Penyerapan tenaga kerja itu masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah yaitu SMP ke bawah sebanyak 75,21 juta orang atau 60,39 persen. Sedangkan penduduk bekerja berpendidikan menengah yaitu SMA sederajat mencapai 34,06 juta orang atau 27,35 persen.

Selain itu, penduduk berpendidikan tinggi hanya sebanyak 15,27 juta orang atau 12,26 persen, yang mencakup sebesar 3,68 juta orang berpendidikan diploma dan 11,59 juta orang berpendidikan Universitas.

“Perbaikan kualitas penduduk bekerja ditunjukkan oleh meningkatnya penduduk bekerja yang berpendidikan tinggi. Dalam setahun terakhir, jumlahnya meningkat dari 11,34 persen pada Februari 2016 menjadi 12,26 persen pada Februari 2017,” jelas Suhariyanto.

Dari segi upah maupun gaji sebulan, buruh, karyawan atau pegawai memperoleh rata-rata upah maupun gaji sebulan sebesar Rp2,7 juta. Buruh, karyawan atau pegawai yang bekerja di sektor listrik, gas dan air rata-rata memperoleh upah atau gaji tertinggi, yaitu Rp4,43 juta.

Rata-rata upah maupun gaji sebulan terendah terjadi di sektor pertanian yaitu hanya sebesar Rp1,75 juta.

BPS juga mencatat adanya kesenjangan upah sebesar Rp680 ribu antara buruh, karyawan atau pegawai laki-laki dan perempuan karena perbedaan tingkat pendidikan, keterampilan, pengalaman kerja dan jabatan dalam pekerjaan utama.  (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here