Gerakan RadikaI Masuki Sendi Kehidupan Berbangsa

386
Istri Presiden ke-4I, Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid (google images)

Gerakan radikal dan kaum intoleran sudah menguasai pemikiran segelintir masyarakat Indonesia, bahkan sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Gerakan radikal dan intoleransi sudah masuk ke dalam kehidupan bernegara. Hanya berapa belas persen saja yang tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam,” kata istri Presiden ke-4I, Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, dalam talkshow “Perempuan dan Kebinnekaan”, di Jakarta, Senin.

Ia menyebutkan, dari hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation diketahui, dari total 1.255 responden, 59 persen memiliki rasa benci terhadap non muslim, etnis Tionghoa, dan lain-lain.

“Dampak rasa benci itu membuat mereka tidak setuju anggota kelompok itu (non muslim) menjadi pejabat di Indonesia,” ucapnya.

Selain menolak menjadi pejabat, sebanyak 82 persen responden tidak setuju kelompok-kelompok tersebut menjadi tetangga mereka.

“Kondisi ini sudah sampai di kehidupan bertetangga. Hanya sebagian kecil yang bersifat netral dan mau menghargai perbedaan,” ujarnya.

Shinta menilai semua kondisi ini merupakan potensi yang cukup mengkhawatirkan. Dari survei yang dilakukan pun, sedikitnya ada 11,5 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan-tindakan radikal.

“Angka-angka ini merupakan peringatan atau “warning” bagi bangsa indonesia untuk menghadapi radikalisme agama. Semakin tinggi menerapkan syariah, semakin tinggi keinginan untuk melakukan gerakan radikal,” ungkapnya.

Jika dibiarkan, menurut Shinta, gerakan radikal dan intoleran merupakan ancaman yang nyata bagi keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kelompok-kelompok radikal saat ini juga secara intens masuk ke dalam lembaga-lembaga pendidikan lantaran berbalut kegiatan agama, kebanyakan pengelola kampus tidak curiga.

“Sehingga mereka bebas melakukan doktrin kepada mahasiswa sehingga hanyut ke dalam sisi gerakan radikal. Ini juga patut diwaspadai,” tegasnya.

Seharusnya, untuk saat ini sudah ada kontrol yang ketat terkait isi-isi ceramah di kalangan mahasiswa. Selain para pembimbing dan penceramah, yang harus dikontrol juga pengurus-pengurus lembaga dakwah di lembaga pendidikan.

“Pendampingan kalangan mahasiswa dan pelajar tentunya sangat penting dilakukan untuk menghadapi ajaran-ajaran radikal dan fundamentalis,” ujar Shinta.

Seluruh masyarakat Indonesia merupakan saudara sebangsa dan se Tanah Air, sehingga sudah sepatutnya untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati, menghargai dan tolong menolong.

“Kaum muslimin yang mayoritas harus bisa hidup berdampingan dengan minoritas. Semua harus saling menghormati, menghargai dan tolong menolong,” ucapnya.

Kebhinnekaan terobek-robek

Shinta pun merasa kebhinekaan terobek-robek oleh bangsanya sendiri, karena ada kelompok radikali, fundamentalis dan intoleransi yang mencoba mencuci pemikiran-pemikiran rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda dan mahasiswa.

“Kaum radikal ini menginginkan mengubah NKRI ini menjadi negara Islam. Ini yang saya tidak suka,” katanya seraya menambahkan dirinya prihatin dengan kondisi bangsa ini.

Kaum orang tua, tambah dia, harus membentengi dan mengecek anak-anaknya setiap bergaul dengan temannya. Orang tua juga harus meneliti materi apa yang diberikan oleh lembaga pendidikannya saat anaknya mengikuti lembaga dakwah.

Di tempat yang sama, istri Alm Nurcholis Madjid, Omi Komariah Madjid, menuturkan, perbedaan tidak boleh dijadikan ajang untuk mengejek, mengolok maupun merendahkan kelompok lain yang berbeda, baik itu berbeda secara agama, etnis, latar belakang dan lain sebagainya.

“Kebhinekaan harus menjadi penyatu bagi kita semua. Perbedaan tidak boleh dijadikan ajang mengejek atau mengolok satu sama lain. Tanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi sejak kecil,” tuturnya. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here