Jawa Barat Jadi Proyek Percontohan Korporasi Petani

90
Sumber Gambar : agritani.id

Kementerian Pertanian menunjuk Provinsi Jawa Barat sebagai pilot projek
atau proyek percontohan penumbuhan dan pengembangan Kelompok Ekonomi
Petani (KEP) dan Kelompok Wanita Tani atau KWT yang akan diakuisisi
menjadi korporasi pertanian.

“Tahun ini proyek percontohan ada di delapan kabupaten di wilayah Jawa
Barat,” kata Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya
Manusia Pertanian (BPPSMP) Kementerian Pertanian Surachman Suwardi dalam
kegiatan Bimtek KEP dan Kelompok Wanita Tani di Kota Bogor, Jawa Barat,
Kamis.

Surachman menyebutkan delapan kabupaten di Jawa Barat tersebut adalah
Karawang, Sumedang, Ciamis, Garut, Purwakarta, Tasikmalaya, Majalengka dan
Cianjur.

Menurutnya pemilihan Jawa Barat karena berbagai pertimbangan selain karena
plotingan dari Kementerian BUMN, juga telah memenuhi beberapa kriteria di
antaranya memiliki BUMDes yang potensial, ketersediaan lahan, dan gapoktan
yang memadai.

“Jika di Jawa Barat selesai akan berkembang ke Provinsi Jawa Timur dan
Banten tahun ini juga,” katanya.

Ia mengatakan kelopok tani tersebut akan bergerak multisektor di bidang
pertanian meliputi peternakan, tanaman pangan, hortikultura dan
perkebunan.

“Kalau berbicara korporasi petani harus ada integrasi hulu dan hilir,
tidak hanya “on farm” saja katanya.

Surachman menjelaskan langkah awal mewujudkan korporasi petani adalah
tansformasi kelembagaan KEP dan KWT, transformasi jenis usahanya, sehingga
tidak hanya berfikir untuk kelompok saja, tapi menjadikan pertanian
industri.

BPPSDMP berupaya untuk mempercepat transformasi kelembagaan KEP dan KWT
tersebut dengan mengakuisisnya dengan BUMDes. Sehingga kelompok tersebut
dapat menjalankan pertanian berbasis industri.

Untuk meningkatkan kapasitas dan menumbuhkembangkan KEP dan KWT tersebut
BPPSDMP melaksanakan Bimtek diikuti sekitar 129 KWT dan KEP dari seluruh
daerah di Indonesia.

“Bimtek ini kita harapkan kelompok wanita tani yang jumlahnya cukup banyak
ini melakukan tansformasi kelembagaan sehingga terjadi tranformasi skala
usaha,” katanya.

Transformasi tersebut diperlukan agar KWT yang sudah ada jangan terus
menerus menjadi KWT tapi harus berkembang menjadi pertanian berbasis
industri, tidak lagi berfikri hanya untuk kelompok dan pemenuhan kebutuhan
sendiri.

“Pertanian adalah industri untuk itu BPPSDMP akan memotivasi KWT
mentransformasi kelembagaan dan usahanya menjadi pertanian industri,” kata
Surachman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here