Jembatan Timbang Hemat Perawatan Jalan Rp10 Triliun

248
Jembatan TImbang (google images)

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan penghematan biaya perawatan jalan yang bisa dilakukan apabila pengoperasian kapal Ro-Ro angkutan barang sudah efektif dan tidak ada lagi penyimpangan kelebihan muatan di jembatan timbang bisa mencapai Rp10 triliun.

“Se-Indonesia bisa menghemat Rp10 triliun setahun. Katakanlah Jawa ini setengahnya, kita bisa hemat Rp5 triliun setahun,” kata Budi usai meninjau Jembatan Timbang Balonggandu di Karawang, Jabar, Kamis.

Budi mengatakan saat ini pengoperasian kapal Ro-Ro untuk angkutan barang masih disubsidi, nantinya apabila daya saingnya sudah meningkat, pemerintah akan mencabut subsidi tersebut.

“Bayangkan di sana (Ro-Ro) enggak usah disubsidi, di sini (jembatan timbang) enggak usah keluar biaya `maintenance` (perawatan),” ucapnya.

Dengan berpindahnya pengelolaan jembatan timbang ke pemerintah pusat, yakni koordinasi Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Budi mengatakan menjadi alat kendali bagi setiap angkutan yang melintas.

“Karena Menteri PU merasa jalan-jalan kita dizolimi karena ada berat tidak pada proporsi yang benar,” ujarnya.

Dia juga telah mendiskusikan kepada pemerintah daerah bahwa jembatan timbang bukan alat Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Saya berdiskusi banyak dengan gubernur, bapak-bapak kami tidak menyalahkan bapak untuk mendapatkan PAD, tapi esensi dari jembatan timbang adalah bagaimana kita melakukan kontrol pada berat badan yang melalui jalan-jalan,” katanya.

Budi menyebutkan saat ini terdapat 25 jembatan yang telah diserahkan ke pemerintah pusat dan sembilan di antaranya akan menjadi proyek percontohan.

“Tapi ini sangat strategis, kita ini mendidik untuk truk-truk itu bukan jalan satu satunya dilakukan, jalan ini sudah padat, rusak, kita sediakan Ro-Ro, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Semarang, untuk jalan alternatif,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setidadi Poerwanto menjelaskan biaya yang dikeluarkan oleh Kementerian PUPR untuk memperbaiki kerusakan jalan dan jembatan dalam setahunnya mencapai Rp20 triliun.

“Karena kerusakan dari kelebihan beban itu pangkat empat, jadi katakanlah misal tadi ada 16 ton, tapi 29 ton kelebihannya ya kan dua kali lipat,” imbuhnya.

Arie menambahkan daya kerusakannya bisa empat kali lipat, yang seharusnya jalan tersebut dirancang untuk 10 tahun, dua tahun sudah rusak.

“Artinya lebih dari setengahnya. Berapa kehilangan kita, artinya kemampuan untuk membangun dengan mengefektifkan jembatan timbang ini jauh lebih murah dan efisien,” katanya.

Dia menambahkan penghematan biaya perbaikan bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih strategis. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here