Menhan Akui Koordinasi Pembelian Senjata Belum Jalan

74
sumber gambar :suratkabar.id

Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu mengakui bahwa
komunikasi koordinasi pengadaan senjata untuk keperluan militer dan
non-militer belum berjalan dengan baik sehingga aturannya harus pada satu
Undang-Undang.

“Koordinasi ini belum berjalan dengan benar, mudah-mudahan ke depan
berjalan secara benar karena satu induk yaitu Menteri Pertahanan. Semua
harus berpatokan pada satu UU aturan, kalau sudah kesana semua,” kata
Ryamizad di Gedung Nusantara II, Jakarta, Selasa.

Dia menegaskan pengadaan senjata oleh instansi militer ataupun non-militer
harus seizin pihaknya, dan meminta semua pihak yang menggunakan senjata
harus melalui izin dari dirinya.

Selain itu, Ryamizard mengatakan pengadaan senjata untuk Korps Brimob
Polri yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu, telah
sesuai prosedur.

Dia mengaku sudah mengetahui pengadaan senjata oleh Polri yang tertahan di
bandara, dan juga sudah melakukan pembicaraan dengan Kapolri Jenderal Tito
Karnavian ihwal senjata tersebut.

“Sudah bicara dengan Kapolri. Sekarang saya minta semuanya yang memakai
senjata harus seizin Menteri Pertahanan,” ujarnya.

Dia mengatakan pengadaan senjata tersebut sesuai prosedur dan tinggal
nanti di lapangan serah terimanya.

Ryamizard mengaku sudah melihat senjata yang dibeli Polri tersebut, yaitu
pelempar granat dan gas air mata tidak ada yang digunakan untuk
menghancurkan tank seperti informasi yang beredar.

Sebelumnya beredar informasi bahwa ada senjata yang ditahan Badan
Intelijen Strategis (BAIS TNI) yaitu senjata Arsenal Stand Alone Grenade
Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter sebanyak 280 pucuk dan 5.932 butir
peluru.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membenarkan informasi
yang menyebutkan bahwa senjata yang berada di Bandara Soekarno-Hatta
adalah milik instansinya.

Menurut Setyo, pengadaan senjata tersebut semuanya sudah sesuai dengan
prosedur, mulai dari perencanaan dan proses lelang.

“Kemudian proses berikutnya ditinjau staf Irwasum dan BPKP. Sampai dengan
pengadaannya dan pembeliannya pihak ketiga dan proses masuk ke Indonesia
dan masuk ke pabean Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Namun, Setyo membantah penahanan tersebut karena pengadaan ini sudah
diketahui Dankor Brimob Irjen Pol Murad Ismail dan BAIS TNI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here