MENSOS: Waspadai Metamorfosis Narkoba

85
Jajanan SD yang Diduga Dicampur Narkoba (googel images)

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat mewaspadai metamorfosis atau perubahan bentuk narkoba yang sengaja didesain produsennya untuk mengelabui aparat keamanan.

“Kalau dulu berbentuk pil, bubuk heroin, atau lintingan ganja , maka sekarang menjelma menjadi aneka rupa,” katanya saat meresmikan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Teratai Khatulistiwa di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (18/3).

Dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu, Khofifah mengatakan kini beredar narkoba yang dicampur dengan makanan bahkan jajanan anak.

Belum lama ini beredar permen dot di Surabaya yang disinyalir mengandung narkoba. Sebelumnya juga beredar kue kering bercampur ganja di Bandung dan Jakarta.

“Pengedar narkoba semakin pintar mengemas barang dagangannya. Penyusupan narkoba ke dalam makanan dan jajanan anak merupakan salah satu bentuk metamorfosis narkoba saat ini,” kata dia.

Khofifah menerangkan, dengan mencampur narkotika ke dalam makanan maka akan sulit terdeteksi secara kasat mata. Polisi perlu melakukan uji klinis laboratorium untuk memastikan apakah makanan tersebut mengandung narkoba atau tidak.

Oleh karena itu, Khofifah mengimbau orang tua agar senantiasa mengingatkan anak-anaknya yang masih duduk di bangku TK dan SD untuk tidak jajan sembarangan.

“Orang tua harus lebih peduli dan tidak boleh cuek terhadap fenomena metamorfosis narkoba ini,” kata dia.

Apalagi, lanjut dia, sindikat narkoba kini juga memanfaatkan anak-anak sebagai pengedar dengan pertimbangan selain memperkecil kecurigaan polisi juga hukuman yang dikenakan kepada pelaku anak-anak hanya setengah dari orang dewasa.

Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Marjuki mengatakan dari jumlah usia produktif di Kalimantan Barat sebesar 3.599.100 orang, diperkirakan sebanyak 61.185 orang dengan prevalensi 1,7 persen menyalahgunakan narkoba.

“Ibarat fenomena gunung es, angkanya bisa jauh melebihi prevalensi tersebut,” ujarnya. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here