Pekan Raya Indonesia Gelar Pesta 16 Hari

287
Press Conference Pekan Raya Indonesia

Acara Pekan Raya Indonesia (PRI) kembali digelar dengan menghadirkan 16 hari nonstop pesta rakyat yang dihadirkan dengan konsep yang kaya akan kebudayaan Indonesia mulai dari musik, kuliner, hingga pameran multiproduk berskala nasional.

“PRI dijadikan sebagai wadah untuk memfasilitasi segala lapisan masyarakat agar dapat mengunjungi Indonesia Convention Exhibition dan menikmati hiburan dengan venue yg nyaman dan modern,” kata Direktur Utama PT Indonesia International Expo, Ryan Adrian dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Ajang PRI rencananya bakal diselenggarakan pada pada tanggal 21 Oktober-5 November 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, Banten.

Dia mengucapkan bahwa semaraknya pesta tahun ini dilengkapi dengan hadirnya Zona Craft & UKM dengan nama “Pavilion Indonesia”, yang diapresiasikan untuk para pelaku industri kreatif dan Usaha Kecil Menengah.

Selain Zona Craft & UKM, 11 zona lainnya juga akan menjadi bagian meriahnya PRI seperti zona busana dan gaya hidup, zona barang-barang konsumer, furnitur, multiproduk, gadget dan teknologi informasi, hingga zona otomotif (motor dan mobil).

Kemeriahan PRI juga tidak luput dari hiburan-hiburan seperti hadirnya Panggung Nusantara yang menampilkan kesenian Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tak hanya itu, para pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di Pekan Raya Indonesia, seperti membatik, membuat kerajinan cungkil kayu, melukis dan permainan tradisional yang membawa pengunjungkembali ke era “tempoe doeloe”.

PRI juga diharapkan dapat menjadi suatu wadah promosi untuk dapat menghidupkan dan menjadikan produk Indonesia sebagai “lifestyle” (gaya hidup) khususnya bagi masyarakat urban di Indonesia.

Kekayaan Indonesia juga dihadirkan dengan pengunjung yang dinilai dapat dapat menikmati ragam kuliner, seperti Toko Oen Semarang (1936), Soto Ahri Garut (1943), Kupat Tahu Gempol (1965), Es Kopi Tak Kie (1927), Nasi Campur Bukit Tinggi Keramat Soka (1970), dan Mangut Ikan Manyung Bu Fat (1969). (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here