Peneliti Prancis Ungkap Sejarah Lukisan Kaca Jawa

422
Ilustrasi Lukisan Kaca Jawa (google images)

Peneliti sekaligus Direktur Pusat Studi Asia Tenggara di Prancis (CNRS-EHESS-INALCO) Jerome Samuel mengungkapkan hasil penelitiannya mengenai sejarah lukisan kaca di Jawa pada kurun waktu abad 19 dan 20.

Dalam diskusi bertajuk “Reverse Glass Painting in Java: A Popular Passion in 19th and 20th centuries” di Pusat Kebudayaan Prancis, Jakarta, Rabu, Jeremi menuturkan lukisan kaca merupakan karya seni dekoratif yang populer di kalangan masyarakat Jawa pada abad ke-19 dan ke-20.

Diperkenalkan oleh pelukis Eropa dan China pada pertengahan abad ke-19, lukisan kaca menjadi ikon modernitas percampuran antara gaya Jawa, Eropa, China dan Muslim.

“Pada masa penjajahan, lukisan kaca karya para seniman lukis Jawa diminati tak hanya oleh masyarakat pribumi namun juga orang China dan Arab,” katanya.

Sebagian lukisan, tambahnya, berkisah tentang zaman penjajahan, sebagian lain menggambarkan gaya hidup masyarakat Hindia Belanda dan ada juga yang memeperlihatkan modernitas teknik, relijius dan politik.

Mengenai kedudukan lukisan kaca dan seni dekoratif sebagai sumber sejarah, Jerome Samuel mengatakan, pada intinya sejarah bersumber pada teks, karena itu lukisan kaca dan seni dekoratif adalah pelengkap sumber utama.

Lukisan kaca merupakan satu medium di antara sekian medium lain seperti kertas, kayu, kulit, seng, di mana para seniman atau pengrajin sering menggunakan tema, unsur dan teknik yang sama atau yang mirip.

“Di samping itu jangan lupa bahwa pada zaman dulu lukisan bukan sekadar seni dekoratif, tetapi terutama mengungkapkan status atau afiliasi seseorang pada jaringan tertentu, demikian juga merupakan gambar yang mempunyai jiwa atau kuasa dan digunakan untuk membawa perlindungan kepada pemiliknya, misalnya terhadap malapetaka, penyakit, maling, dan lain-lain,” katanya.

Terkait penelitian-penelitian lukisan kaca, menurutnya baik di Indonesia maupun di luar negeri, riset yang berkaitan dengan lukisan kaca sangat sedikit. Penelitian pertama dibuat oleh Hooykaas-van Leeuwen Boomkamp, seorang Belanda, pada tahun 1930-an yang menggambarkan situasi kerajinan lukisan kaca khususnya di Yogyakarta pada masa itu.

Penelitian yang paling mendalam telah dikerjakan di awal tahun 1980-an oleh tim peneliti Jepang di bawah pimpinan ilmuwan bernama Seichi Sasaki, tambahnya, dan hasil penelitian tim Jepang itu berupa kumpulan foto lukisan kaca yang mereka temukan.

Terakhir, penelitian disertasi Eddy Hadi Waluyo yang menyinggung revitalisasi seni lukis kaca dari tahun 1980-an sampai tahun 2000-an di Cirebon, Yogyakarta dan Nagasepaha, Buleleng, Bali.

Menyinggung perkembangan lukisan kaca di tanah air pada masa mendatang, pria yang pernah mengajar bahasa Prancis di Unpad dan CCF Bandung itu menyatakan, salah satu cabang seni lukis ini saat ini menghadapi banyak kendala untuk maju, terlebih lagi minat masyarakat semakin menurun.

Menurut Direktur CCF Surabaya dan dosen di Universitas Kristen Petra itu, perkembangan seni lukisan kaca merebak hingga pada awal abad 19 hingga tahun 1970an dan setelah itu hanya wilayah tertentu seperti Cirebon yang masih memelihara keberadaan seni tersebut. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here