Presiden: Jangan Sebar Radikalisme di Kampus-kampus

136
sumber gambar : tahuberita.com

Presiden Joko Widodo menegaskan kepada seluruh elemen bangsa
agar jangan menyebarkan paham radikalisme di kampus-kampus atau
perguruan tinggi di Indonesia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan sambutan dalam acara
penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Peninsula
Island, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Selasa, sebagaimana
keterangan tertulisnya mengatakan era keterbukaan membuka celah yang besar
bagi upaya-upaya infiltrasi ideologi.

“Sekarang ini telah terjadi infiltrasi ideologi yang ingin menggantikan
Pancasila dan memecah-belah kita. Keterbukaan tidak bisa kita hindari
sehingga media sosial sangat terbuka bebas untuk infiltrasi yang tidak
kita sadari,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa kemajuan teknologi tak dapat dipungkiri telah membawa
semua menuju era keterbukaan.

Informasi kini dapat semakin mudah untuk disebarkan dan diperoleh semua
orang sehingga banyak kemudahan lainnya juga dirasakan sebagai dampak dari
kemajuan itu.

Namun, di sisi lain, keterbukaan tersebut dapat memberikan celah bagi
upaya-upaya infiltrasi ideologi yang tidak disadari.

Hal inilah yang mendorong Presiden Joko Widodo mengingatkan kepada seluruh
elemen bangsa untuk senantiasa waspada terhadap upaya-upaya yang dapat
memecah-belah bangsa.

Menurut dia, infiltrasi tersebut dilakukan dengan cara-cara lembut dan
menggunakan pendekatan terkini.

Akibatnya, banyak dari masyarakat yang lupa bahwa sebenarnya Indonesia
telah memiliki ideologi Pancasila yang mempersatukan.

“Banyak dari kita yang terbuai oleh itu sehingga kita lupa telah memiliki
Pancasila. Tadi saya bangga telah dideklarasikan oleh pimpinan perguruan
tinggi se-Indonesia yang bertekad untuk mempersatukan kita dalam NKRI,
berpegang teguh dalam UUD 1945, dan menjaga Bhinneka Tunggal Ika,”
ucapnya.

Di hadapan para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia itu, Presiden
sekaligus mengingatkan bahwa perguruan tinggi adalah sumber pengetahuan
dan pencerahan.

Oleh karena itu, akan sangat berbahaya kalau perguruan tinggi dimanfaatkan
oleh segelintir pihak sebagai medan infiltrasi ideologi ini.

“Jangan sampai kampus-kampus menjadi lahan penyebaran ideologi
anti-Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Presiden.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pihak untuk terus memupuk rasa
persaudaraan antarsesama.

Sebab, bangsa Indonesia mampu berdiri tegak hingga sekarang ini karena
adanya persatuan yang telah ditanamkan sejak dulu.

“Apabila kita semua masih cinta Indonesia, kita harus menghentikan
infiltrasi ideologi, radikalisme, dan terorisme di perguruan tinggi
seluruh Indonesia agar rasa persatuan dan persaudaraan semakin kuat.
Jangan sampai hasil kerja keras untuk anak cucu kita hancur karena
terorisme dan radikalisme sehingga bangsa kita jadi bangsa yang mundur,”
lanjutnya.

Selain itu, untuk merawat kebinekaan dan Pancasila, Presiden juga
berpandangan bahwa pembinaan ideologi Pancasila sebagai pandangan hidup
Bangsa Indonesia perlu dimasukkan baik ke dalam kurikulum pengajaran
maupun kegiatan pendidikan nonformal lainnya.

“Tanamkan bahwa kebinekaan adalah sumber kekuatan bangsa Indonesia dan
betapa kita ini sangat beragam. Negara ini kokoh menjadi satu dengan dasar
Pancasila. Dengan bekerja bersama, marilah kita rawat NKRI. Perkuat
Pancasila, tolak radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Turut mendampingi Presiden, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri
Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, serta Gubernur Bali I Made
Mangku Pastika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here