Presiden Sebut Gedung Perpustakaan Nasional Tertinggi di Dunia

138
Sumber Gambar : https://kumparan.com

Presiden Joko Widodo menyebut bahwa gedung Perpustakaan Nasional yang baru
memiliki 27 lantai dan telah diresmikan ini merupakan tertinggi di dunia untuk
kategori gedung perpustakaan yang ada.

“Perpustakaan Nasional ini dulunya hanya tiga lantai. Ngak ada yang mau
datang ke sini, sekarang 27 lantai `plus basement`. Jadi nggak kaget kalau
gedung Perpustakaan Nasional ini tertinggi di dunia, untuk gedung
peroustakaannya,” kata Presiden saat meresmikan Gedung Perpustakaan
Nasional di Jalan Merdeka Selatan Jakarta, Kamis.

Jokowi menyatakan kebanggaannya terhadap gedung ini karena sudah digagas
oleh Presiden Soekarno sejak 65 tahun, namun baru bisa dikerjakan pada
saat ini dengan memakai bentuk dari hasil lomba sehingga mendapatkan
sebuah desain yang sangat baik.

“Ini dikerjakan dua tahun enam bulan dan selesai dengan kondisi yang
sangat baik, Alhamdulillah meskipun saya belum masuk, saya lihat luarnya
saja, saya berkomentar sangat baik,” ujar Jokowi.

Presiden mengingatkan kepada Perpustakaan Nasional merupakan masa depan,
artinya bagaimana meningkatkan minat baca kepada anak-anak saat ini adalah
kepada generasi Y, generasi Z yang punya pola pikir dan perilaku jauh
berbeda dengan generasi-genarasi sebelumnya.

“Mereka sekarang lebih senang baca tulisan atau baca berita di `smartphone
atau di tablet. Dan saya keliling ke kampus-kampus, saya tanya berapa
banyak mereka yang masih baca koran cetak. Saya dapat memastikan sudah
sangat berkurang sekali,” ungkapnya.

Presiden menyebut genarasi sekang ini hanya menggunakan smarphone bisa
baca berita apapun, bisa lihat “live streaming” (siaran langsung), bisa
lihat video apapun, sehingga informasi apapun dalam waktu yang sangat
cepat bisa mereka serap.

“Toleransi durasi membaca mereka juga semakin pendek, sekarang rata-rata
kalau dalam tiga menit pertama tulisannya sudah tidak menarik, baca ngak
menarik, langsung tidak mau baca sisanya, polanya seperti itu. Bahkan
kalau judulnya saja sudah tidak menarik, langsung dilewatin. Kalau bukunya
susah dicari pasti mereka juga tidak mau baca,” ungkapnya.

Dengan perubahan yang ada saat ini, Presiden berharap sistem kecepatan
kecepatan dalam melayani itu menjadi sebuah hal yang sangat penting,
karena generasi sekarang maunya serba cepat.

“Generasi Z sekarang mau apa-apa itu tinggal klik. Kita juga saya kira
sama, pesan gado-gado klik, pasan sate kambing klik, setengah jam datang
lewat `go food`. mau beli barang juga tinggal klik, mau baca buku, baca
artikel tinggal klik. Sudah serba digital dan digital itu sudah menjadi
bagian itu mereka,” tuturnya.

Presiden mengingatkan bahwa sekarang ini memang sudah eranya
terobasan-terobasan digital dan “disruptive innovation” ya sudah banyak
terjadi di berbagai bidang sehingga semuanya bergerak dan berkembang
dengan cara tidak diduga serta inovasinya cepat sekali.

“Kalau kita tidak ikut berubah, tidak cepat melakukan revolusi digital, ya
ditinggal. Saya senang sekali Perpusnas sudah mulai melakukan pengembangan
serba digital, serba elektronik, tadi saya diberitahu, akan ada
`e-resources`, `e-book`, `e-journal` dan macam e-lainnya,” paparnya.

Presiden juga meminta Perpusnas RI untuk tidak cepat puas dengan peresmian
ini karena namanya digital dan “destruktif inovasion” perkembangannya
setiap saat, setiap jam, setiap menit, setiap detik selalu berkembang
sehingga perlu diperhatikan dan mempelajari orang menkomsumsi buku,
mengkomsusmsi tulisan lalu sesuaikan dengan layanan ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here