Presiden Ingatkan Penggunaan Medsos Kepada Pelajar NU

133
sumber gambar : okezone.com

Presiden Joko Widodo mengingatkan mengenai tantangan
dalam penggunaan media sosial kepada sekitar 15 ribu pelajar Nahdlatul
Ulama (NU), di lapangan tembak Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jateng.

“Tantangan keterbukaan saat ini adalah media sosisal yang sangat terbuka.
Semua orang bisa mengabarkan apa saja yang baik-baik dikabarkan boleh,
yang positif-positif dikabarkan sangat baik, tapi juga jangan lupa di
media sosial sekarang ini bertebaran yang jelek-jelek, yang negatif,
fitnah, mencela, `hoax`, kabar bohong itu juga menjadi tantangan kita ke
depan,” kata Presiden Joko Widodo, Senin.

Presiden menyampaikan hal itu dalam acara Pembukaan Perkemahan Wirakarya
Pramuka Ma`arif Nahdlatul Ulama Nasional (PERWIMNAS) II Tahun 2017 bertema
“Kokohkan Karakter Generasi Bangsa” dan Apel Ma`arif Nahdlatul Ulama Setia
NKRI.

Selain Presiden, hadir juga Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa
Tengah Ganjar Pranowo serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf
Amin.

“Selain itu tantangan makin maraknya narkoba, yang jenisnya bermacam-macam
oleh sebab itu pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kita semuanya
untuk menyadari bahwa tantangan-tangangan yang saya sampaikan tadi ada di
depan kita,” tambah Presiden.

Presiden meminta agar para peserta Perwimnas yang juga merupakan anggota
permuka itu dapat mempersiapkan diri untuk beradu cepat dengan negara
lain.

“Bagaimana kita beradu kreativitas kalau tidak kita akan ditinggal. Inilah
tantangan-tantangan yang kita hadapi dan memerlukan sebuah `basic` fondasi
yang sangat kuat sehingga kita bisa memenangkan kompetisi itu. Tapi saya
meyakini dengan sebuah fondasi karakter yang baik, pramuka Ma`arif NU saya
meyakin Insya Allah mampu menatap masa depan memenangkan persaingan,
memenangkan kompetisi karena `basic` karakter itu sudah ada, tinggal
disuntik sedikit-sedikit,” tutur Presiden.

Presiden pun kembali mengingatkan agar para peserta Pramuka Ma`rif NU
dapat menjaga “Ukhuwah Islamiyah” (persaudaraan sesama kaum Muslim) dan
Ukhuwah Wathoniyah (menjalin persaudaraan dengan saudara sebangsa setanah
air) dapat diperkuat agar Indonesia dapat menjadi negara yang kuat secara
ekonomi.

“Saya ingin mengingatkan kepada para santri, marilah kita bersiap diri
terhadap perubahan yang momennya datang begitu cepat. Sekarang perubahan
teknologi dan inovasi datangnya begitu cepat setiap jam, menit, detik
selalu ada perubahan. Kalau kita tidak bersiap diri dan membuat terobosan,
lompatan-lompatan kemajuan dalam bertindak, dalam merespon inovasi
teknologi maka sekali lagi kita akan tertinggal, kita akan digulung oleh
perubahan itu sendiri.”

“Jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita capai terus pelajari
hal-hal baru temukan hal-hal baru, praktikan hal-hal baru yang dapat
membawa kemajuan untuk diri kita umat, negara kesatuan yang kita cintai,”
ujar Presiden, menegaskan.

Sedangka Ketua Umum MUI Maruf Amin juga mengakui bahwa intensitas konflik
yang dilatarbelakangi perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)
di dunia internasional semakin meningkat.

“Perlahan namun pasti konflik yang terjadi di Irak, Suriah, Myanmar dan
berbagai negara masing-masing di belahan dunia lainnya telah mereduksi
kebangsaan sebagaian warga Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai
gerakan intoleran dalam skala besar hari ini, di tengah hal itu sudah
sepantasnya nilai-nilai kebangsaan berbasis agama yang dibangun pendahulu
kita tertanam di generasi penerus sehingga perbedaan SARA tidak dapat
digunakan sebagai alat merusak kohesivitas anak bangsa oleh kelompok tidak
bertanggung jawab,” kata Maruf Amin.

Perwinas Maarif NU menurut Maruf Amin hadir di saat yang tepat saat
generasi muda tantangan kohesivitas yang tereduksi.

Ia pun mengutip jargon pendiri NU Abdul Wahab yaitu Syubbanul Wathon yang
liriknya berbunyi “Ya Lal Wathon/Ya Lal Wathon/Ya Lal Wathon/Hubbul Wathon
minal Iman/Wala Takun minal Hirman/Inhadlu Alal Wathon/Indonesia Biladi”.

“Artinuya pusaka hati, wahai tanah airku cintaku dalam imanku, Indonesia
adalah kebanggaan kita semua. Bait ini mengingatkan kepada kita
nasionalisme sama sekali tidak bertentangan dengan agama apapun terjemahan
`Hubbul Wathon Minal Iman` bukan hanya cinta tanah air tapi nasionalime,
nasionalisme adalah bagian dari iman dan iman ini yang menyelematkan
Indonesia dari perpecahana seperti terjadi pada bangsa-bangsa lain,” tegas
Ma`ruf Amin.

Dalam acara itu, pelajar Maarif NU juga menyampaikan ikrar yaitu setia
kepada Pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika serta
berkomitmen mempertahankan NKRI harga mati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here