Bukan Tanah Longsor ataupun Banjir, Ternyata Angin Kencang Ancaman Bencana Tertinggi di Kabupaten Bogor

1046

Cibinong – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengingatkan potensi bencana angin kencang masih menjadi ancaman tertinggi yang perlu diwaspadai masyarakat.

“Longsor itu nomor dua yang masih paling sering itu angin kencang, hampir setiap hari terjadi di beberapa daerah,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bogor Budi Pranowo di Cibinong, Senin.

Ia mengatakan melihat data dari tahun 2012 hingga 2016 ada peningkatan jumlah kejadian angin kencang Kabupaten Bogor di setiap tahunnya.

Dari rentang lima tahun itu, kata Dia, sebanyak 628 kejadian angin kencang terjadi hingga penghujung tahun 2016 yang dikuti dengan cuaca ekstrem yang mengakibatkan empat kejadian angin kencang dengan efek pohon tumbang dan longsor di Kecamatan Cisarua dan Megamendung pada Minggu (12/2) awal tahun 2017 ini.

Sekretaris BPBD itu mengimbau, masyarakat diharapkan waspada terhadap daerah sekitar Kecamatan Caringin, Cijeruk, Gunung Puteri, Ciomas, Pamijahan, Nanggung dan Sukajaya.

Budi menyampaikan dengan adanya surat nomor 360/159-BPBD-2016 dari Sekretaris Daerah yang mengintruksikan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana.

Lalu surat nomor 360/761-BPBD-2016 dari Bupati Bogor terkait imbauan kepada masyarakat terhadap antisipasi bencana dan menyiagakan tim atau satgas dan evakuasi kecamatan serta koordinasi musyawarah pimpinan kecamatan dengan BPBD membuat pihaknya bersiaga 24 jam mengawasi titik bencana.

Selanjutnya dengan adanya surat nomor 360/17-BPBD-2016 tentang pernyataan siaga darurat dari Bupati Bogor yang menginstruksikan BPBD untuk melakukan segala yang perlu dilakukan dalam mengatasi bencana dengan itu ia mengimbau masyarakat untuk bekerjasama bersiaga di lingkungannya.

Tindakan tersebut, jelasnya, adalah upaya yang dilakukan Pemkab Bogor sesuai keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dramaga yang memperkirakan adanya peningkatan curah hujan mulai dari Nopember 2016 yang mengakibatkan cuaca ekstrem pada 4 Januari hingga akhir Februari 2017.

“Tapi kita siapsiaganya sampai dengan April untuk mengantisipasi,” ujarnya.

Sebagai upaya cepat, tambah Budi, melalui surat Bupati tersebut kini disetiap Kecamatan sudah dibentuk kelompok kerja (Pokja) yang terdiri dari aparat pemerintah dan relawan daerah.

Ia juga menjelaskan dengan adanya kelompok kerja tersebut, informasi bencana tidak lebih dari lima sampai 30 menit segera direspon oleh petugas dari pemkab sampai ke Kecamatan.

Sumber : Antara Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here