Dinkes Beri Penyuluhan Keamanan Pangan Bagi Ukm

93
https://www.aclu.org

Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat memberikan
penyuluhan tentang keamanan pangan kepada puluhan pelaku usaha baru atau
Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) di Aula Dinkes, Rabu.

“Penyuluhan keamanan pangan ini dalam rangka sertifikasi produk pangan
idustri rumah tangga,” kata Kepala Seksi Pembekalan Kesehatan Pengawasan
Obat dan Makanan (Perbekes dan POM) Dinas Kesehatan Kota Bogor, Nurhaedah.

Nurhaedah mengatakan penyuluh tentang keamanan pangan produk olahan pangan
merupakan program rutin yang dilakukan empat kali dalam setahun. Setiap
kali penyuluhan diikuti oleh 60 sampai 70 perserta yang terdiri dari IRTP
baru yang mulai atau merintis usahanya.

“Kegiatan penyuluhan ini bukti hadirnya pemerintah dalam menjamin keamanan
pangan di masyarakat,” katanya.

Penyuluhan tersebut merupakan tahapan dari pengajuan sertifikasi produk
pangan industri rumah tangga (PIRT) yang harus dimiliki oleh setiap
industri kecil rumah tangga. Setelah mengikuti penyuluhan, maka peserta
akan mendapatkan kode dan sertifikat PIRT yang berlaku selama lima tahun.

“Ada dua aspek penting PIRT yakni untuk legalitas dan pemasaran,” katanya.

Ia mengatakan dengan memiliki PIRT, pelaku usaha memiliki legalitas bahwa
produknya telah terjamin kualitas keamanan pangannya, sehingga aman dan
sehat bagi masyarakat.

“Dengan PIRT pelaku usaha dapat memperluas jangkauan pemasarannya, tidak
lagi skala rumahan tapi juga bisa merambah super market bahkan eksport,”
kata Nuraedah.

Lebih lanjut Nurhaedah mengatakan penyuluhan berlangsung selama dua hari
yakni dari tanggal 11 sampai 12 Oktober 2017. Peserta diberikan pembekalan
mengenai keamanan pangan dari sejumlah narasumber di antaranya, dari Dinas
Kesehatan Kota Bogor, BPOM Provinsi Bandung, BPOM RI, LPPOM – MUI serta
Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Adapun materi penyuluhan yang diberikan kepada peserta yakni tentang
kebijakan PIRT di Kota Bogor, peraturan perundang-undangan tentang pangan,
cara memproduksi pangan yang baik untuk IRTP, standar operasi prosedur
sanitasi, tata cara pemeriksaan sarana.

Pada hari kedua penyuluhan disampaikan materi mengenai pelabelan dan iklan
pangan, penggunaan bahan tambahan pangan, mutu dan keamanan pangan,
penjelasan mengenai sertifikasi halal, serta etika bisnis dan pembinaan
jaringan bisnis IRTP.

“Diharapkan dari kegiatan penyuluhan ini agar produk-produk yang
dihasilkan oleh IRTP benar-benar terjamin keamanannya, tidak mengandung
bahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat, dan memiliki kandungan gizi
yang baik,” kata Nurhaedah.

Rita salah satu peserta penyuluhan keamanan pangan dari Kelurahan Roda,
sedang merintis usaha cemilan Maccaroni Si Centil yang saat ini baru
dipasarkannya di lingkungan tempat tinggal. Rata-rata per hari ia
memproduksi hingga dua kilo gram. Ia berencana memasarkan produknya ke
salah satu ritel yang ada di dekat rumahnya.

“Kebetulan pemilik ritel meminta saya untuk mempunyi PIRT, makanya saya
mengajukan sertifikasi PIRT supaya saya bisa memasarkan lebih luas lagi,”
kata Rita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here